Sabtu, 15 Februari 2014

Jadwal Kuliah Semester 4

Diposting oleh Feby Perry di 04.49 0 komentar
Mata KuliahKuliahRuang
CPI601 Telaah Kurikulum dan Pembelajaran Bahasa Selasa 12:30:00 1.14
CPI602 Pengembangan Materi Ajar Selasa 15:00:00 1.14
CPI408 Apresiasi Prosa Fiksi Rabu 07:00:00 1.14
CPI304 Profesi Kependidikan Kamis 10:20:00 2.23
CPI502 Korespondensi Kamis 07:00:00 2.23
CPI832 Penulisan Naskah 2 Jumat 08:40:00 RB1,Lt1
CPI251 Sosiolinguistik Kamis 08:40:00 2.23
CPI246 Sintaksis 1 Rabu 09:30:00 1.14

Rabu, 12 Februari 2014

Stop Menyontek

Diposting oleh Feby Perry di 01.17 0 komentar
Hari ini tanggal 12 Februari 2014. Akhirnya perut gue lega juga. Bukan, bukan karena gue abis pup. Tapi akhirnya nilai semester ini keluar juag. Biasa aja sih kedengarannya. Tapi, bisa lo bayangin gimana rasanya di PHP-in sama dosen-dosen yang belum laporin nilai mahasiswanya ke prodi. Berhari-hari, malah berminggu-minggu lo ngecek ke website kampus lo buat ngecek nila. Dan hasilnya selalu nihil. Tapi hari ini, penantian panjang itu akhirnya usai sudah. NILAINYA SUDAH KELUAAAAAAAAAAAARRRRRR!!!!!!
HaHaHaHaHaHa
Jangan anggap hal ini biasa. Gue tekanin sekali lagi JaN9aN 4nG9aP H4L iN1 b1a$4. Oke!.
Sebenernya gue orangnya down to earth banget, enggak ada sombongnya sedikit pun. Suerrrrrr deh enggak bohong. Enggak suka yang namanya pamer, apalagi sampe dipublikasiin di sosial media. aduuh enggak banget deh.

Morfologi 2
AB (7)
Psikolinguistik
AB (7)
Teori Belajar Bahasa
B (6)
Perkembangan Peserta Didik
B (6)
Apresiasi Puisi
A (12)
Penulisan Populer
A (12)
Menulis
AB (10,5)
Pilihan
AB (10,5)
IPS
3,55
IPK
3,45
Kalo yang di atas itu soalnya gue kesenengan, jadi pengen pamer sedikit lah hehe. *buat adik-adik, jangan ditiru ya.
Kenapa gue pamerin nilai gue? soalnya gue bangga. Kenapa gue bangga? soalnya itu nilai gue dapetin dengan susah payah dan basah kuyup. Gue dapetin itu nilai dengan tangan gue sendiri, dengan pemikiran gue sendiri dan dengan kehendah Allah SWT.

Jujur, dulu gue hobi banget dengan mencontek, malah udah kecanduan. Tapi sekarang gue udah insaf dan kembali ke jalan yang benar. Suerrr ga bohong. Caranya gampang banget, enggak harus direhabilitasi kok. Cuma bayangin kedua orang tua kalian aja. Iya bener, gue dapetin hidayah buat enggak lagi nyontek gara-gara inget kedua orang tua gue. Terus gue mikir, gue sekolah dibiyayain mereka, mereka juga selalu bilang ke gue "belajar yang pinter ya". Nah itu, gue enggak mau jadi anak durhaka kaya si Malin Kundang. jadi, mulai dari situ gue punya tekad pokoknya gue musti pinter dari hasil belajar. Bukan hasil nyontek.

Dan mulai dari situ juga, gue mulai enggak suka tiap kali ngeliat temen-temen gue pas lagi ujian. Mereka itu sama kaya gue waktu dulu. Tapi cara mereka itu masih kuno menurut gue. Cara mereka yang sering gue liat itu:
  1. Bilang "sts sts sts nomer 2" ke teman sebelah, belakang, maupun depan dengan suara kecil.
  2. Nyiapin kertas kecil, biasanya cara ini dilakukan untuk pelajaran-pelajaran yang menggunakan rumus. Dan fungsi kertas itu untuk menyimpan rumus-rumus itu. Biasanya mereka nyelipin kertas kecil itu di tempat pensil, kaos kaki, dasi, ataupun di sela jam tangan.
  3. Menggunakan handphone. Biasanya mereka sms-an dengan teman di kelas yang berbeda.
Udah sih, segitu doang yang gue tau. Dan jujur, gue juga pernah ngelakuinnya. Tapi gue udah insyaf.
 Buat teman-teman gue yang masih asik dengan hobinya, yaitu mencontek. berhentilah kawan, ingat orang tuamu, ingat gurumu, ingat Tuhanmu, dan ingat tukang sol sepatu. Mereka pasti kecewa kalu tahu kalo kamu hobi mencontek. Harapan mereka besar kepadamu.
Bukan, bukan hanya mereka. Negara ini pun menggantungkan masa depannya kepadamu. Apa jadinya republik ini, apabila generasi penerusnya berhobi mencontek. Mau jadi apa kamu kalo setiap ulangan mencontek, mau jadi koruptor? jangan.... sudah banyak koruptor di negeri ini, malah sangat berlebih. ayolah.... republik ini butuh mereka yang jujur, yang menggunakan pemikirannya untuk membangun masa depan bangsa ini untuk lebih baik lagi, bukan sebaliknya. jadi,
STOP MENYONTEK












Jumat, 18 Oktober 2013

Ibu Negara Dalam Instagram

Diposting oleh Feby Perry di 22.31 1 komentar


Ibu Negara, Ani Yudhoyono melontarkan kata ‘bodoh’ saat menanggapi komentar salah satu followersnya di akun instagram miliknya menuai pro dan kontra. Pasalnya, sebagai ibu Negara, Ani Yudhoyono dinilai tidak pantas mengeluarkan kata-kata negatif kepada seseorang yang tidak bukan adalah rakyatnya sendiri.


Akun @erie_nya yang dalam profilnya ditulis dimiliki oleh Erie Prasetyo, itu awalnya mengritik SBY dan keluarga yang datang ke Pantai Klayar, Pacitan, dengan menggunakan batik saat kunjungan kerja. Tidak terima dengan komentar tersebut, Bu Ani lantas membalasnya. Dengan komentar: “@erie_nya Subhanallah, komentar anda yang sangat bodoh. Koq anda tidak berpikir bahwa kami sedang melakukan kunjungan, dan mampir sebentar ke pantai itu, sekalian lewat? Come on, apa tak ada komentar lain yang lebih bisa diterima siapa saja? Baju batik sudah dikenakan dimana2, bukan hanya untuk acara resmi saja, namun juga acara setengah resmi, bahkan santai.”.




Selang berapa lama, akun @erie_nya membalas komentar Bu Ani. “@aniyudhoyono iya Ibu, saya barangkali memang masuk dalam golongan orang Indonesia yang masih bodoh. semoga Ibu berkenan memberi saya pencerahan agar kelak saya bisa pintar seperti Ibu. tapi memang, jika tak ada orang bodoh, mereka yang pintar jadi tak begitu memiliki arti.. *saya ngga cari ngetop. saya cuma kasih komen yang tak memuji. Jika Tuhan saja bisa mengampuni dosa-dosa saya, saya percaya Ibu pun akan memberi maaf kepada saya, kepada salah satu warga negara Indonesia yang masih bodoh.. Doa saya selalu, agar Ibu dan Bapak Presiden sekeluarga terus sehat dan senantiasa mampu untuk membuat negara ini maju dan membuat pintar warga negara yang masih bodoh seperti saya. Maafkan jika komentar2 saya sebelumnya membuat Ibu tidak berkenan.”

Perkataan ibu negara ini membuat kita terperanjat, bukankah keluarga SBY selama ini selalu mencitrakan diri sebagai sosok yang berhati-hati dalam berbicara dan sopan dalam bertindak. Jadi sangat ironis apabila keluar kata-kata yang tidak pantas diucapkan apalagi oleh seorang ibu negara yang seharusnya mencontohkan kebaikan-kebaikan baik dari sisi perbuatan maupun perkataan. Kenapa bisa seorang ibu negara berkata demikian, seorang psikolog forensik dari Universitas Bina Nusantara (Binus), Reza Indragiri Amriel menilai, salah satu penyebab Bu Ani melontarkan kata 'bodoh' di instagram karena stres dan penat. Bu Ani letih karena belakangan suami dan keluarganya banyak diterpa isu dan kritik. Belum lagi nama Bunda Putri yang disebut-sebut dekat dengan SBY. Bu Ani nampaknya sedang letih dan gampang impulsif-agresif verbal. Tetapi bagaimanapun keadaannya, seorang ibu negara tetap tidak pantas mengatakan hal-hal yang tidak baik kepada seseoang, apalagi melalui sebuah jejaring sosial. Hakikatnya, jejaring sosial digunakan oleh sesorang untuk dapat berinteraksi dengan orang lain dengan baik, sebagai sarana untuk berbagi, dan sebagai sarana untuk berekspresi.




Sekarang zamannya semua orang bisa bebas berekspresi. Tak peduli tingkat pendidikannya hanya sampai Sekolah dasar, Sekolah menengah atau bahkan yang sudah bergelar sarjana, dari pengangguran hingga orang nomer satu di negara ini sekalipun bisa berpendapat,. Sejak masa orde baru berakhir, Mei 1998, Era kebebasan mengambil alih panggung kebesaran. Ini termuat di dalam UUD 1945 pasal 28E ayat 3 yang menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Namun, yang menjadi permasalahan sekarang adalah memang benar hak setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat, akan tetapi jika pendapat tersebut mengarah kepada pembunuhan karakter seseorang, maka akan ada konsekuensi logis yang harus diterima. Mengkritisi namun tanpa adanya ketulusan. Sebagai contoh dalam kasus yang dialami oleh ibu Ani Yudhoyono ini.




Masyarakat sedang menikmati buah dari kebebasan berpendapat dan mengritik pemangku jabatan yang dulu tidak dapat dinikmati. Oleh karenanya, seorang pejabat publik dan keluarga harus mau dikritik. Tetapi, jangan pula terlalu hanyut dalam kata ‘kebebasan’. Berpendapat boleh, tapi harus memikirkan apa yang diucapkannya itu. Baik ataukah buruk, bukan hanya untuk kepentingan pribadinya saja, tetapi juga harus mementingkan kepentingan banyak orang. Dalam bertuturpun harus memilih kata-kata yang baaik untuk digunakan. Bebas harus diimbangi dengan tanggung jawab, artinya semua perbuatan dan perkataan yang dilontarkan harus dapat dipertanggung jawabkan apabila hal tersebut menyinggung orang lain. Mulutmu harimaumu begitu kata pepatah, jadi berhati-hatilah dalam berucap bagaimanapun keadaannya, dengan siapapun lawan bicaranya, dan dimanapun tempatnya. Baik itu di dalam keseharian, atau jejaring sosial sekalipun




Dalam media sosial seperti facebook, twitter, dan instagram juga berlaku etika dalam berkomunikasi. Karena itu, dalam memposting atau memberikan sebuah komentar harus berhati-hati memilih kata-kata yang hendak ditulis jangan sampai ada kata-kata negatif, hal tersebut dapat melukai perasaan orang lain.

Kamis, 26 September 2013

PENDIDIKAN RASA INDONESIA

Diposting oleh Feby Perry di 23.05 0 komentar

Siapa yang tidak mengenal Ki Hajar Dewantara, seorang tokoh penggagas pendidikan di Indonesia, yang terkenal dengan asas pendidikannya yaitu ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani. Pernahkah melihat raut wajahnya apabila ia melihat keadaan pendidikan yang terjadi di Indonesia sekarang, sangat kecewa sudah pasti. Bagaimana tidak, dengan seribu satu macam persoalan yang terjadi sekarang di dunia pendidikan Indonesia, yang memotret ketidak merataannya pendidikan di Indonesia.

Pendidikan di Indonesia bisa dikatakan sangat jauh berbeda dengan bangsa lain, jangankan dengan Negara maju seperti Amerika atau Inggris, dengan Negara yang serumpun seperti Malaysiapun Indonesia jauh tertinggal. Pada era tahun 70an sampai 80an keadaan pendidikan di Indonesia masih di atas Malaysia. Orang Malaysia datang belajar ke Indonesia. Bahkan beberapa guru dari Indonesia diperbantukan mengajar di Malaysia. Sekarang pendidikan di Malaysia termasuk yang paling baik di dunia, tetapi Indonesia malah terkesan berjalan di tempat. Apa yang salah dengan pendidikan di Indonesia.


Di televisi, surat kabar maupun radio, sering sekali kita mendengar berita tentang sekolah yang kebanjiran, gedung sekolah yang hampir runtuh, jumlah anak yang putus sekolah yang terus meningkat, kurangnya tenaga pengajar,dan lain-lain. Berdasarkan data BPS tahun 2013, rata-rata nasional angka putus sekolah usia 7–12 tahun mencapai 0,67 persen atau 182.773 anak; usia 13–15 tahun 2,21 persen atau 209.976 anak; dan usia 16–18 tahun semakin tinggi hingga 3,14 persen atau 223.676 anak.


Lalu pertanyaannya adalah bagaimana sikap pemerintah. Pemerintah berdalih bahwa mereka sudah sepenuhnya mengurusi permasalahan yang terjadi di dunia pendidikan. Tetapi kenyataannya tidak seperti yang dikatakan. Bukankah 20% APBN ditujukan untuk dunia pendidikan, lalu mengapa masih ada saja anak yang kurang mampu secara ekonomi tidak dapat bersekolah. Di dalam UUD 1945 tercantum “mencerdaskan kehidupan bangsa”, kewajiban Negara untuk mencerdaskan rakyatnya dengan memberikan mereka hak untuk bersekolah.


Seharusnya pemerintah dapat lebih peka melihat persoalan yang terjadi di dunia pendidikan di Indonesia, anggaran-anggaran dari Negara seharusnya dapat di distribusikan secara merata baik di sekolah-sekolah yang ada di kota ataupun sekolah-sekolah yang berada di daerah. Selain itu melakukan berbagai penyuluhan tentang pentingnya pendidikan, agar anak-anak Indonesia yang masih dalam usia sekolah mau bersekolah. Pemerintah harus lebih menguatkan lagi kebijakan yang dulu pernah dibuatnya tentang wajib belajar. Infrastruktur sekolah atau akses yang menuju sekolahpun harus diperbaiki agar seluruh anak-anak Indonesia bisa mendapatkan hak mereka untuk bersekolah dengan layak.


Bukankah kecerdasan bangsa ini ditentukan oleh pendidikannya, bagaimana bisa kita menginginkan bangsa ini maju kalau sistem pendidikannyapun masih kacau seperti sekarang ini. Dan Negara yang baik adalah negara yang bisa mengakui kelemahannya dan mengoptimalkan keunggulan yang dimiliki. Untuk itu Indonesia sudah seyogyanya selalu meningkatkan kualitas pendidikannya dengan cara membandingkan dengan negara maju dibidang pendidikannya.

Kamis, 05 September 2013

LUNTURNYA MINAT SASTRA DIKALANGAN MAHASISWA SASTRA

Diposting oleh Feby Perry di 22.39 0 komentar


Sebagai mahasiswa sastra, pengetahuan akan sastra sudah menjadi kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Sudah seharusnya, mahasiswa tersebut mengetahui tentang seluk-beluk sastra, dari mulai sejarah sastra, periode sastra, sastrawan maupun sastrawati atau pun karya sastra yang mencakup puisi, drama dan prosa. Pengetahuan akan sastra tersebut bisa didapatkan dari seringnya mahasiswa membaca buku tentang sastra, melihat pertunjukkan atau teater, dan lain sebagainya yang dapat menambah pengetahuan mereka tentang sastra. Namun, sebaliknya sekarang ini pengetahuan mahasiswa tentang sastra sangat kurang. Minat untuk mempelajari lebih dalampun kurang, mempelajari hanya ketika ada tugas saja. Selebihnya tidak, hanya mendengar apa yang dijelaskan oleh dosen ketika sedang berlangsung proses belajar mengajar di kelas. Kurangnya pengetahuan mahasiswa tentang sastra ini berakibat kepada kurangnya minat mereka untuk membuat sebuah karya sastra, jangankan novel atau cerpen puisipun hanya dibuat ketika dosen menugaskan.
Permasalahan ini salah satunya disebabkan oleh rendahnya minat baca mahasiswa, Rendahnya minat baca sastra merupakan permasalahan mendasar yang menjadikan kesastraan seperti lahan kering yang kurang diminati. mahasiswa sekarang lebih suka yang instan dibandingkan harus bersusah-susah mencari. Mereka lebih suka mengcopas (copy-paste) dari internet ketimbang membaca, ini disebabkan oleh pesatnya kemajuan teknologi. Seharusnya perkembangan teknologi dapat diimbangi dengan pendidikan moral yang baik. Permasalahan lainnya adalah seperti waktu yang masih terbagi dengan jam kuliah, biaya serta perasaan takut jika karyanya tidak bisa diterima baik oleh penerbit atau masyarakat. Selain itu, kalangan mahasiswa biasanya mempunyai pemikiran yang sudah menganggap dirinya tidak mampu untuk menerbitkan karya-karya yang baik serta kemalasan untuk mengembangkan ide penulisan. Hal ini yang membuat para mahasiswa sastra kurang produktif.
Kondisi memprihatinkan ini harus lekas disikapi agar mahasiswa tidak sekedar kuliah, hanya datang-mendengarkan-pulang, tetapi dalam proses belajarnya mahasiswa tersebut dapat mendapatkan pengetahuan yang lebih yang bermanfaat nantinya untuk masa depannya kelak baik untuk pekerjaannya atau orang lain. Oleh karena itu, kita perlu menemukan solusi konkret atas rendahnya minat baca sastra, perhatian mahasiswa yang tersita pada teknologi dan masih menyampingkan minat baca inilah yang menyebabkan terbengkalainya pengetahuan akan kesastraan di tengah hiruk-pikuk pembangunan nasional dewasa ini. Padahal banyak sarana yang bisa digunakan oleh mereka, seperti banyaknya disediakan buku-buku sastra diperpustakaan kampus, adanya media yang dapat mereka manfaatkan untuk lebih cepat dalam mendapat informasi terbaru, dan bagi mereka yang ingin membuat sebuah karya sastra atau mempublikasikannya, adanya sarana rubrik karya sastra dalam berbagai media cetak.  Dan  para mahasiswa harus lebih sering mengikuti acara-acara yang bermanfaat untuk kuliahnya seperti bedah buku maupun bergabung dalam suatu komunitas yang bergerak dalam bidang sastra. Hal tersebut bisa mendatangkan banyak manfaat bagi mereka, seperti mendapatkan masukan dan pengalaman baru, memperoleh gambaran serta imajinasi, juga bisa dilakukan sebagai tolak ukur dalam pembuatan karya cerpen. Karena, hidup bukan hanya sekedar teori, tetapi bagaimana mempraktikkannya.
 

Feby Perry Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review