| Mata Kuliah | Kuliah | Ruang | |
|---|---|---|---|
| CPI601 | Telaah Kurikulum dan Pembelajaran Bahasa | Selasa 12:30:00 | 1.14 |
| CPI602 | Pengembangan Materi Ajar | Selasa 15:00:00 | 1.14 |
| CPI408 | Apresiasi Prosa Fiksi | Rabu 07:00:00 | 1.14 |
| CPI304 | Profesi Kependidikan | Kamis 10:20:00 | 2.23 |
| CPI502 | Korespondensi | Kamis 07:00:00 | 2.23 |
| CPI832 | Penulisan Naskah 2 | Jumat 08:40:00 | RB1,Lt1 |
| CPI251 | Sosiolinguistik | Kamis 08:40:00 | 2.23 |
| CPI246 | Sintaksis 1 | Rabu 09:30:00 | 1.14 |
Blogroll
Sabtu, 15 Februari 2014
Jadwal Kuliah Semester 4
Rabu, 12 Februari 2014
Stop Menyontek
Hari ini tanggal 12 Februari 2014. Akhirnya perut gue lega juga. Bukan, bukan karena gue abis pup. Tapi akhirnya nilai semester ini keluar juag. Biasa aja sih kedengarannya. Tapi, bisa lo bayangin gimana rasanya di PHP-in sama dosen-dosen yang belum laporin nilai mahasiswanya ke prodi. Berhari-hari, malah berminggu-minggu lo ngecek ke website kampus lo buat ngecek nila. Dan hasilnya selalu nihil. Tapi hari ini, penantian panjang itu akhirnya usai sudah. NILAINYA SUDAH KELUAAAAAAAAAAAARRRRRR!!!!!!
HaHaHaHaHaHa
Jangan anggap hal ini biasa. Gue tekanin sekali lagi JaN9aN 4nG9aP H4L iN1 b1a$4. Oke!.
Sebenernya gue orangnya down to earth banget, enggak ada sombongnya sedikit pun. Suerrrrrr deh enggak bohong. Enggak suka yang namanya pamer, apalagi sampe dipublikasiin di sosial media. aduuh enggak banget deh.
|
Morfologi 2
|
AB (7)
|
|
Psikolinguistik
|
AB (7)
|
|
Teori Belajar Bahasa
|
B (6)
|
|
Perkembangan Peserta Didik
|
B (6)
|
|
Apresiasi Puisi
|
A (12)
|
|
Penulisan Populer
|
A (12)
|
|
Menulis
|
AB (10,5)
|
|
Pilihan
|
AB (10,5)
|
|
IPS
|
3,55
|
|
IPK
|
3,45
|
Kalo yang di atas itu soalnya gue kesenengan, jadi pengen pamer sedikit lah hehe. *buat adik-adik, jangan ditiru ya.
Kenapa gue pamerin nilai gue? soalnya gue bangga. Kenapa gue bangga? soalnya itu nilai gue dapetin dengan susah payah dan basah kuyup. Gue dapetin itu nilai dengan tangan gue sendiri, dengan pemikiran gue sendiri dan dengan kehendah Allah SWT.
Jujur, dulu gue hobi banget dengan mencontek, malah udah kecanduan. Tapi sekarang gue udah insaf dan kembali ke jalan yang benar. Suerrr ga bohong. Caranya gampang banget, enggak harus direhabilitasi kok. Cuma bayangin kedua orang tua kalian aja. Iya bener, gue dapetin hidayah buat enggak lagi nyontek gara-gara inget kedua orang tua gue. Terus gue mikir, gue sekolah dibiyayain mereka, mereka juga selalu bilang ke gue "belajar yang pinter ya". Nah itu, gue enggak mau jadi anak durhaka kaya si Malin Kundang. jadi, mulai dari situ gue punya tekad pokoknya gue musti pinter dari hasil belajar. Bukan hasil nyontek.
Dan mulai dari situ juga, gue mulai enggak suka tiap kali ngeliat temen-temen gue pas lagi ujian. Mereka itu sama kaya gue waktu dulu. Tapi cara mereka itu masih kuno menurut gue. Cara mereka yang sering gue liat itu:
- Bilang "sts sts sts nomer 2" ke teman sebelah, belakang, maupun depan dengan suara kecil.
- Nyiapin kertas kecil, biasanya cara ini dilakukan untuk pelajaran-pelajaran yang menggunakan rumus. Dan fungsi kertas itu untuk menyimpan rumus-rumus itu. Biasanya mereka nyelipin kertas kecil itu di tempat pensil, kaos kaki, dasi, ataupun di sela jam tangan.
- Menggunakan handphone. Biasanya mereka sms-an dengan teman di kelas yang berbeda.
Udah sih, segitu doang yang gue tau. Dan jujur, gue juga pernah ngelakuinnya. Tapi gue udah insyaf.
Buat teman-teman gue yang masih asik dengan hobinya, yaitu mencontek. berhentilah kawan, ingat orang tuamu, ingat gurumu, ingat Tuhanmu, dan ingat tukang sol sepatu. Mereka pasti kecewa kalu tahu kalo kamu hobi mencontek. Harapan mereka besar kepadamu.
Bukan, bukan hanya mereka. Negara ini pun menggantungkan masa depannya kepadamu. Apa jadinya republik ini, apabila generasi penerusnya berhobi mencontek. Mau jadi apa kamu kalo setiap ulangan mencontek, mau jadi koruptor? jangan.... sudah banyak koruptor di negeri ini, malah sangat berlebih. ayolah.... republik ini butuh mereka yang jujur, yang menggunakan pemikirannya untuk membangun masa depan bangsa ini untuk lebih baik lagi, bukan sebaliknya. jadi,
STOP MENYONTEK
Jumat, 18 Oktober 2013
Ibu Negara Dalam Instagram
Ibu Negara, Ani
Yudhoyono melontarkan kata ‘bodoh’ saat menanggapi komentar salah satu followersnya di akun instagram miliknya
menuai pro dan kontra. Pasalnya, sebagai ibu Negara, Ani Yudhoyono dinilai tidak
pantas mengeluarkan kata-kata negatif kepada seseorang yang tidak bukan adalah
rakyatnya sendiri.
Akun @erie_nya yang dalam profilnya ditulis dimiliki oleh Erie Prasetyo, itu awalnya mengritik SBY dan keluarga yang datang ke Pantai Klayar, Pacitan, dengan menggunakan batik saat kunjungan kerja. Tidak terima dengan komentar tersebut, Bu Ani lantas membalasnya. Dengan komentar: “@erie_nya Subhanallah, komentar anda yang sangat bodoh. Koq anda tidak berpikir bahwa kami sedang melakukan kunjungan, dan mampir sebentar ke pantai itu, sekalian lewat? Come on, apa tak ada komentar lain yang lebih bisa diterima siapa saja? Baju batik sudah dikenakan dimana2, bukan hanya untuk acara resmi saja, namun juga acara setengah resmi, bahkan santai.”.
Selang berapa lama, akun @erie_nya membalas komentar Bu Ani. “@aniyudhoyono iya Ibu, saya barangkali memang masuk dalam golongan orang Indonesia yang masih bodoh. semoga Ibu berkenan memberi saya pencerahan agar kelak saya bisa pintar seperti Ibu. tapi memang, jika tak ada orang bodoh, mereka yang pintar jadi tak begitu memiliki arti.. *saya ngga cari ngetop. saya cuma kasih komen yang tak memuji. Jika Tuhan saja bisa mengampuni dosa-dosa saya, saya percaya Ibu pun akan memberi maaf kepada saya, kepada salah satu warga negara Indonesia yang masih bodoh.. Doa saya selalu, agar Ibu dan Bapak Presiden sekeluarga terus sehat dan senantiasa mampu untuk membuat negara ini maju dan membuat pintar warga negara yang masih bodoh seperti saya. Maafkan jika komentar2 saya sebelumnya membuat Ibu tidak berkenan.”
Perkataan ibu negara ini membuat kita terperanjat, bukankah keluarga SBY selama ini selalu mencitrakan diri sebagai sosok yang berhati-hati dalam berbicara dan sopan dalam bertindak. Jadi sangat ironis apabila keluar kata-kata yang tidak pantas diucapkan apalagi oleh seorang ibu negara yang seharusnya mencontohkan kebaikan-kebaikan baik dari sisi perbuatan maupun perkataan. Kenapa bisa seorang ibu negara berkata demikian, seorang psikolog forensik dari Universitas Bina Nusantara (Binus), Reza Indragiri Amriel menilai, salah satu penyebab Bu Ani melontarkan kata 'bodoh' di instagram karena stres dan penat. Bu Ani letih karena belakangan suami dan keluarganya banyak diterpa isu dan kritik. Belum lagi nama Bunda Putri yang disebut-sebut dekat dengan SBY. Bu Ani nampaknya sedang letih dan gampang impulsif-agresif verbal. Tetapi bagaimanapun keadaannya, seorang ibu negara tetap tidak pantas mengatakan hal-hal yang tidak baik kepada seseoang, apalagi melalui sebuah jejaring sosial. Hakikatnya, jejaring sosial digunakan oleh sesorang untuk dapat berinteraksi dengan orang lain dengan baik, sebagai sarana untuk berbagi, dan sebagai sarana untuk berekspresi.
Sekarang zamannya semua orang bisa bebas berekspresi. Tak peduli tingkat pendidikannya hanya sampai Sekolah dasar, Sekolah menengah atau bahkan yang sudah bergelar sarjana, dari pengangguran hingga orang nomer satu di negara ini sekalipun bisa berpendapat,. Sejak masa orde baru berakhir, Mei 1998, Era kebebasan mengambil alih panggung kebesaran. Ini termuat di dalam UUD 1945 pasal 28E ayat 3 yang menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Namun, yang menjadi permasalahan sekarang adalah memang benar hak setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat, akan tetapi jika pendapat tersebut mengarah kepada pembunuhan karakter seseorang, maka akan ada konsekuensi logis yang harus diterima. Mengkritisi namun tanpa adanya ketulusan. Sebagai contoh dalam kasus yang dialami oleh ibu Ani Yudhoyono ini.
Masyarakat sedang menikmati buah dari kebebasan berpendapat dan mengritik pemangku jabatan yang dulu tidak dapat dinikmati. Oleh karenanya, seorang pejabat publik dan keluarga harus mau dikritik. Tetapi, jangan pula terlalu hanyut dalam kata ‘kebebasan’. Berpendapat boleh, tapi harus memikirkan apa yang diucapkannya itu. Baik ataukah buruk, bukan hanya untuk kepentingan pribadinya saja, tetapi juga harus mementingkan kepentingan banyak orang. Dalam bertuturpun harus memilih kata-kata yang baaik untuk digunakan. Bebas harus diimbangi dengan tanggung jawab, artinya semua perbuatan dan perkataan yang dilontarkan harus dapat dipertanggung jawabkan apabila hal tersebut menyinggung orang lain. Mulutmu harimaumu begitu kata pepatah, jadi berhati-hatilah dalam berucap bagaimanapun keadaannya, dengan siapapun lawan bicaranya, dan dimanapun tempatnya. Baik itu di dalam keseharian, atau jejaring sosial sekalipun
Dalam media sosial seperti facebook, twitter, dan instagram juga berlaku etika dalam berkomunikasi. Karena itu, dalam memposting atau memberikan sebuah komentar harus berhati-hati memilih kata-kata yang hendak ditulis jangan sampai ada kata-kata negatif, hal tersebut dapat melukai perasaan orang lain.
Kamis, 26 September 2013
PENDIDIKAN RASA INDONESIA
Siapa
yang tidak mengenal Ki Hajar Dewantara, seorang tokoh penggagas pendidikan di
Indonesia, yang terkenal dengan asas pendidikannya yaitu ing ngarso sung
tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani. Pernahkah melihat raut
wajahnya apabila ia melihat keadaan pendidikan yang terjadi di Indonesia
sekarang, sangat kecewa sudah pasti. Bagaimana tidak, dengan seribu satu macam
persoalan yang terjadi sekarang di dunia pendidikan Indonesia, yang memotret
ketidak merataannya pendidikan di Indonesia.
Pendidikan
di Indonesia bisa dikatakan sangat jauh berbeda dengan bangsa lain, jangankan
dengan Negara maju seperti Amerika atau Inggris, dengan Negara yang serumpun
seperti Malaysiapun Indonesia jauh tertinggal. Pada
era tahun 70an sampai 80an keadaan pendidikan di Indonesia masih di atas
Malaysia. Orang Malaysia datang belajar ke Indonesia. Bahkan beberapa guru dari
Indonesia diperbantukan mengajar di Malaysia. Sekarang pendidikan di Malaysia
termasuk yang paling baik di dunia, tetapi Indonesia malah terkesan berjalan di
tempat. Apa yang salah dengan pendidikan di Indonesia.
Di
televisi, surat kabar maupun radio, sering sekali kita mendengar berita tentang
sekolah yang kebanjiran, gedung sekolah yang hampir runtuh, jumlah anak yang
putus sekolah yang terus meningkat, kurangnya tenaga pengajar,dan lain-lain.
Berdasarkan data BPS tahun 2013, rata-rata nasional angka putus sekolah usia
7–12 tahun mencapai 0,67 persen atau 182.773 anak; usia 13–15 tahun 2,21 persen
atau 209.976 anak; dan usia 16–18 tahun semakin tinggi hingga 3,14 persen atau
223.676 anak.
Lalu
pertanyaannya adalah bagaimana sikap pemerintah. Pemerintah berdalih bahwa
mereka sudah sepenuhnya mengurusi permasalahan yang terjadi di dunia
pendidikan. Tetapi kenyataannya tidak seperti yang dikatakan. Bukankah 20% APBN
ditujukan untuk dunia pendidikan, lalu mengapa masih ada saja anak yang kurang
mampu secara ekonomi tidak dapat bersekolah. Di dalam UUD 1945 tercantum “mencerdaskan
kehidupan bangsa”, kewajiban Negara untuk mencerdaskan rakyatnya dengan
memberikan mereka hak untuk bersekolah.
Seharusnya
pemerintah dapat lebih peka melihat persoalan yang terjadi di dunia pendidikan
di Indonesia, anggaran-anggaran dari Negara seharusnya dapat di distribusikan
secara merata baik di sekolah-sekolah yang ada di kota ataupun sekolah-sekolah
yang berada di daerah. Selain itu melakukan berbagai penyuluhan tentang
pentingnya pendidikan, agar anak-anak Indonesia yang masih dalam usia sekolah
mau bersekolah. Pemerintah harus lebih menguatkan lagi kebijakan yang dulu
pernah dibuatnya tentang wajib belajar. Infrastruktur sekolah atau akses yang
menuju sekolahpun harus diperbaiki agar seluruh anak-anak Indonesia bisa
mendapatkan hak mereka untuk bersekolah dengan layak.
Bukankah
kecerdasan bangsa ini ditentukan oleh pendidikannya, bagaimana bisa kita
menginginkan bangsa ini maju kalau sistem pendidikannyapun masih kacau seperti
sekarang ini. Dan Negara yang baik adalah negara yang bisa mengakui kelemahannya
dan mengoptimalkan keunggulan yang dimiliki. Untuk itu Indonesia sudah
seyogyanya selalu meningkatkan kualitas pendidikannya dengan cara membandingkan dengan negara
maju dibidang pendidikannya.
Kamis, 05 September 2013
LUNTURNYA MINAT SASTRA DIKALANGAN MAHASISWA SASTRA
Sebagai
mahasiswa sastra, pengetahuan akan sastra sudah menjadi kebutuhan pokok yang
harus dipenuhi. Sudah seharusnya, mahasiswa tersebut mengetahui tentang seluk-beluk
sastra, dari mulai sejarah sastra, periode sastra, sastrawan maupun sastrawati
atau pun karya sastra yang mencakup puisi, drama dan prosa. Pengetahuan akan
sastra tersebut bisa didapatkan dari seringnya mahasiswa membaca buku tentang
sastra, melihat pertunjukkan atau teater, dan lain sebagainya yang dapat
menambah pengetahuan mereka tentang sastra. Namun, sebaliknya sekarang ini
pengetahuan mahasiswa tentang sastra sangat kurang. Minat untuk mempelajari
lebih dalampun kurang, mempelajari hanya ketika ada tugas saja. Selebihnya
tidak, hanya mendengar apa yang dijelaskan oleh dosen ketika sedang berlangsung
proses belajar mengajar di kelas. Kurangnya pengetahuan mahasiswa tentang
sastra ini berakibat kepada kurangnya minat mereka untuk membuat sebuah karya
sastra, jangankan novel atau cerpen puisipun hanya dibuat ketika dosen
menugaskan.
Permasalahan
ini salah satunya disebabkan oleh rendahnya minat baca mahasiswa, Rendahnya
minat baca sastra merupakan permasalahan mendasar yang menjadikan kesastraan
seperti lahan kering yang kurang diminati. mahasiswa sekarang lebih suka yang
instan dibandingkan harus bersusah-susah mencari. Mereka lebih suka mengcopas (copy-paste) dari internet ketimbang
membaca, ini disebabkan oleh pesatnya kemajuan teknologi. Seharusnya
perkembangan teknologi dapat diimbangi dengan pendidikan moral yang baik. Permasalahan
lainnya adalah seperti waktu yang masih terbagi dengan jam kuliah, biaya serta
perasaan takut jika karyanya tidak bisa diterima baik oleh penerbit atau
masyarakat. Selain itu, kalangan mahasiswa biasanya mempunyai pemikiran yang
sudah menganggap dirinya tidak mampu untuk menerbitkan karya-karya yang baik
serta kemalasan untuk mengembangkan ide penulisan. Hal ini yang membuat para
mahasiswa sastra kurang produktif.
Kondisi
memprihatinkan ini harus lekas disikapi agar mahasiswa tidak sekedar kuliah,
hanya datang-mendengarkan-pulang, tetapi dalam proses belajarnya mahasiswa
tersebut dapat mendapatkan pengetahuan yang lebih yang bermanfaat nantinya
untuk masa depannya kelak baik untuk pekerjaannya atau orang lain. Oleh karena
itu, kita perlu menemukan solusi konkret atas rendahnya minat baca sastra, perhatian
mahasiswa yang tersita pada teknologi dan masih menyampingkan minat baca inilah
yang menyebabkan terbengkalainya pengetahuan akan kesastraan di tengah
hiruk-pikuk pembangunan nasional dewasa ini. Padahal banyak sarana yang bisa
digunakan oleh mereka, seperti banyaknya disediakan buku-buku sastra
diperpustakaan kampus, adanya media yang dapat mereka manfaatkan untuk lebih
cepat dalam mendapat informasi terbaru, dan bagi mereka yang ingin membuat
sebuah karya sastra atau mempublikasikannya, adanya sarana rubrik karya sastra
dalam berbagai media cetak. Dan para mahasiswa harus lebih sering mengikuti
acara-acara yang bermanfaat untuk kuliahnya seperti bedah buku maupun bergabung
dalam suatu komunitas yang bergerak dalam bidang sastra. Hal tersebut bisa
mendatangkan banyak manfaat bagi mereka, seperti mendapatkan masukan dan
pengalaman baru, memperoleh gambaran serta imajinasi, juga bisa dilakukan
sebagai tolak ukur dalam pembuatan karya cerpen. Karena, hidup bukan hanya
sekedar teori, tetapi bagaimana mempraktikkannya.
Langganan:
Postingan (Atom)
