Jumat, 20 Februari 2015

RIDHO ILLAHI

Diposting oleh Feby Perry di 17.15 0 komentar


Namaku Ridho Ilahi, teman-teman biasa memanggilku dodo gosong. Alasan mereka memanggilku seperti itu mungkin karena kulitku yang hitam. Aku tak marah mereka memanggilku seperti itu. Karena kata ustad Mahmud, Tuhan suka semua warna kulit, jadi aku tidak khawatir. Aku sudah kelas 1 SD, wali kelasku pak Didi. Aku suka beliau, karena beliau begitu mengerti apa kemauan siswanya. Datang ke kelas, mengabsen kami, lalu izin keluar sebentar untuk menghabiskan sebatang rokok yang masih menyala ditangannya, sedangkan kami ditugaskan untuk membaca buku cetak. Dan beliau jarang memberikan kami PR, jadi kami bisa bermain sepuasnya setelah pulang sekolah. Aku suka bermain, tidak jarang pantatku terkena pukulan ranting pohon yang dilayangkan emak gara-gara waktu adzan maghrib aku masih asyik menggiring bola.
            Emakku orangnya baik, sangat sayang kepadaku. Buktinya, waktu aku lahir dia memutuskan tidak membuang aku, atau bahkan membunuhku seperti pada tayangan berita yang aku lihat di televisi rumah Pak RT. Emak orangnya pemalu, jarang mengobrol dan bergaul dengan orang. Apalagi, jika Bu Ida datang ke rumah kami menagih uang kontrakan, Emak pasti langsung mencari tempat yang pas untuk bersembunyi, karena Emak sangat pemalu.
            Bapak juga sangat sayang kepadaku, Emak, Sita, Entin, dan Tuti. Bapak enggak suka sinar matahari, alasannya Bapak tidak mau kulitnya seperti kulitku. Maka dari itu Bapak selalu pergi bekerja ketika matahari belum datang, dan pulang ketika matahari sudah pulang terlebih dahulu. Bapak bekerja di rumah Pak Restu. Pak Restu adalah ayah dari Adi, teman sebangkuku. Pulang kerja Bapak selalu membawakan makanan untuk Aku dan Emak. Sita, Entin, dan Tuti juga tidak pernah luput dari perhatian bapak. Bapak sangat menyayangi ketiga kucingnya itu seperti anaknya sendiri.
***
            “Do, ada Bu Ida di depan, bilang Emak lagi ke warung ya” Emak menepuk pundakku, napasnya terengah-engah, kemudian lari ke dapur. Bersembunyi. Aku menggeleng, kemudian membuka pintu menemui Bu Ida, dan berkata seperti yang Emak perintahkan. Bu Ida tidak berkata apa-apa hanya sedikit memonyongkan mulutnya, dan pergi. Aku masuk ke dalam rumah, bersiap pergi ke mushola sebelum Emak mengeluarkan jurus andalannya. “Mak, Dodo  berangkat ngaji” kataku dengan sedikit meninggikan suaraku, agar Emak keluar dari tempat persembunyiannya. Emak datang, dengan mendongakan kepala melihat ke arah jendela. Aku mencium tangannya, tercium aroma terasi, sedap. “Assalamualaikum” aku mengucapkan salam dan membuka pintu. “waalaikumussalam” jawab Emak terdengar samar-samar.
            Aku buru-buru menempati shaf yang kosong, dan menunaikan sholat. Aku mendengar suara tawa kecil disampingku, ku tengok sebentar, ternyata Adi. Adi menepuk-nepuk pundak Isan yang berada satu shaf di depannya, kemudian Adi pura-pura tidak melakukan. Sedangkan sarung Adi diplorotkan ke bawah oleh Trisno. Entah apa yang mereka lakukan, aku putuskan untuk kembali melihat gambar masjid yang ada di sajadahku.
            Setelah sholat, kami selalu berkumpul di teras musholah mengelilingi Ustad Mahmud, untuk mengaji dengannya dan mendengarkan cerita-cerita tentang para Nabi, atau nasihat-nasihat beliau. Kali ini beliau memberikan kami penjelasan tentang sholat. “Anak-anak, kalian kalo sholat tidak boleh bercanda, sholat harus sungguh-sungguh karena Allah. Tidak boleh tertawa, tengok kanan tengok kiri...” sementara Ustad Mahmud menjelaskan, aku menengok ke arah Adi yang sedang cekikikan dengan Trisno. “Pakaian yang kalian gunakan untuk sholat juga harus bersih dari najis” Aku kembali mendengarkan ceramah Ustad Mahmud. “Kita akhiri dengan hamdalah” kata Ustad Mahmud menutup ceramahnya. “Alhamdulillah” jawab kami serempak.
            “Do, ingat tadi kata Pak Ustad?” tanya Adi mengagetkanku. Aku menggeleng. “Ya ampun Do, baru tadi dibilangin. Kata Pak Ustad, kalo sholat pakaiannya harus bersih Do” kata Adi. Aku mengangguk dan menjawab “Pakaianku bersih kok, Baru dicuci Emak tadi pagi”. “Bersih kok warnanya kusam gitu sarungnya, kaya enggak dicuci setahun” kata Adi sambil tertawa, disusul dengan suara tawa Trisno dan Isan. “Do, Kamu minta dibelikan sarung sana ke Emakmu” kata Trisno. Aku melihat ke arah sarungku. Warnanya tak lagi seperti dulu, ada lubang kecil di bagian bawah sarung bekas rokok bapak. Sepanjang jalan ke rumah, aku terus memikirkan apa yang dikatakan Adi, Trisno, dan Isan.
            Aku ketuk pintu rumah, dan mengucapkan salam. Ku buka pintu rumah dan disambut dengan jawaban salam oleh Emak dan Bapak yang sedang meyantap makanan. “Makan Do, sama ayam panggang nih” kata Bapak. Aku hanya mengangguk, dan masuk ke dalam kamarku, kemudian keluar menemui Emak dan Bapak untuk makan bersama. “Do, kok enggak semanget gitu makannya. Biasanya kalo makan sama ayam panggang paling cepet abisnya” kata Bapak menggodaku. Aku tidak menjawab, hanya melanjutkan makanku. Aku sebenarnya sangat suka ayam panggang, jarang-jarang Bapak membawakan ayam panggang. Tapi entah mengapa pikiranku masih dipenuhi dengan perkataan Adi dan teman-teman. “Pak, belikan Dodo sarung baru buat ngaji ya” kataku kepada Bapak. “Iya, besok kita ke pasar ya” jawab Bapak. Aku mengangguk sambil tersenyum lega.
            Keesokan harinya, aku pulang dari sekolah dan melihat Emak sedang mengobrol dengan Bu Ida. Ternyata Emak sudah tidak malu-malu lagi bertemu dengan Bu Ida. Aku menoleh ke belakang, ada yang menepuk pundakku. Ternyata Bapak. “Pak, ayo ke pasar” aku merengek kepada Bapak. “Iya, tapi tidak sekarang ya nak, barusan uang Bapak sudah diberikan kepada Bu Ida untuk membayar kontrakan rumah” katanya pelan. Aku menunduk, hampir saja aku menangis. “Dodo ikut Bapak saja yuk ke rumah Adi, siapa tahu Pak Restu memberikan upah pada Bapak hari ini, jadi kita bisa ke pasar beli sarung baru” ucapnya sambil tersenyum. Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkah Bapak menuju rumah Pak Restu.
            Sesampainya di sana aku membantu Bapak memberikan makan pada kambing-kambing milik Pak Restu. Pak Restu memiliki peternakan kambing dan sapi, dan Bapak bekerja disana untuk mengurusi kambing-kambing milik Pak Restu. “Do, ambil rumput yang disebelah sana ya” kata Bapak sambil menunjuk setumpuk rumput di dekat kandang sapi. Aku mengangguk, dan menuju tempat rumput yang dimaksudkan oleh Bapak.
            Aku menggangkat rumput tersebut, tapi tanganku memegang sesuatu yang berbeda dari tekstur dan bentuk rumput yang sebenarnya. Aku putuskan untuk meletakan rumput yang kupegang ke tempat semula, dan mengambil benda tersebut. Ternyata sebuah amplop berwarna coklat. Ku beranikan untuk membuka amplop tersebut. Mataku melotot selebar-lebarnya, isinya uang kertas berwarna biru banyak sekali. Uang siapa ini, Aku terus bergumam dalam hati dan terus memikirkannya. Entah mengapa satu pikiran yang tidak pernah Aku pikirkan muncul dalam pikiranku. Sarung baru, iya uang ini dapat digunakan untuk membeli sebuah sarung baru, dan sisanya bisa aku berikan kepada Emak.
            Hendak Aku memasukkan amplop tersebut ke dalam saku celanaku, Aku teringat nasihat-nasihat Ustad Mahmud. “Mencuri itu tidak boleh, pencuri temannya setan, setan ada di neraka, jika kalian mencuri maka kalian akan masuk neraka.” Begitulah kata Ustad Mahmud. Akhirnya Aku putuskan untuk memberikan amplop tersebut kepada Pak Restu. Benar saja amplop itu milik Pak Restu, yang hilang dua hari yang lalu. Pak Restu berterima kasih kepadaku dengan mengambil selembar uang dari amplop tersebut. Aku menolaknya dengan halus.
            Keesokan sorenya, Pak Restu datang ke rumahku. “Do, ini buat kamu” katanya sambil memberikan bungkusan plastik warna hitam. “Apa ini Pak?” tanyaku sambil menerimanya. Pak Restu hanya tersenyum. Aku buka kantong plastik itu, isinya adalah sebuah sarung baru berwarna coklat. Aku tersnyum dan memeluk Bapak yang berdiri di sebelahku. “terima kasih Pak Restu” kataku sambil tersenyum dan mencium tangannya, tangan bapak, dan tangan emak, kemudian pamit menuju musholah dengan sarung baru pemberian Pak Restu.

Sabtu, 24 Mei 2014

Straight News

Diposting oleh Feby Perry di 20.07 0 komentar
SANGGAR SEKAR PANDAN PERINGATI HUT KE 22

20140505_160216.jpg 
Foto: Sultan Kacirebonan memberikan sambutan bersama dengan Kepala Dinas Pariwisata Kota Cirebon pada HUT sanggar Sekar Pandan ke 22.
     Cirebon,- Pembukaan Renteng Budaya dalam memeringati Hari Ulang Tahun (HUT) sanggar Sekar Pandan yang ke 22 pada Senin (5/5) yang digelar di Alun-alun Keraton Kacirebonan Kota Cirebon berlangsung meriah. Acara tersebut dibuka oleh Sultan Kacirebonan, Abdul Gani. Menurut Sultan acara ini bertujuan untuk mengenalkan kesenian kepada masyarakat.
     “Dengan diadakannya renteng budaya ini berharap agar masyarakat tertarik untuk memelajari budayanya sendiri dan melestarikannya” Harap Sultan.
      Hadir dalam kesempatan itu Kepala Dinas Pariwisata Kota Cirebon. Dalam sambutannya berpesan agar masyarakat tetap menjaga dan melestarikan budaya. “Cirebon boleh maju, tapi jati diri harus tertanam dan tercermin lewat kesenian dan budaya”. Ujarnya.
     Acara yang diselenggarakan selama lima hari, sejak tanggal 5 Mei hingga 10 Mei tersebut menyajikan berbagai kebudayaan daerah Cirebon. Diantaranya wayang kulit dan tarian-tarian tradisional yang dapat dilihat oleh semua masyarakat sejak pukul 15.00 hingga pukul 22.00 secara gratis. (Feby)

Teks Anekdot

Diposting oleh Feby Perry di 19.53 0 komentar
Sarang Laba-Laba

Pada saat pak dosen memberi kuliah Sosiologi Hukum, bertanyalah ia pada mahasiswa yang bernama Elisa.

Dosen: Saudari Elisa, coba utarakan seringkas mungkin kondisi penegakan hukum di Negara kita tercinta ini! Tanyanya;
Elisa: bagaikan sarang laba-laba pak! Jawabnya tegas;
Dosen: Maksudnya?
Elisa: Kalau kelas nyamuk akan tertangkap dan tak dapat berkutik pak. Sedang kalau kelas kumbang, wah jebol pak.
Dosen: Kalau kelas gagak?
Elisa: Tak tahu pak.
Mahasiswa lainnya: Hahahahahaha
Analisis Teks Anekdot:
Participan di dalam teks anekdot di atas adalah dosen Mata Kuliah Sosiologi Hukum, mahasiswa bernama Elisa, dan mahasiswa lainnya.
Abstraksi:
Seorang dosen sedang memberikan kuliah Sosiologi Hukum
Orientasi:
Suasana kelas kondusif, dan sedang berlangsung sesi tanya jawab.
Krisis:
Mahasiswa yang bernama Elisa mengatakan bahwa kondisi penegakan hukum di Indonesia seperti sarang laba-laba.
Reaksi:
Mahasiswa lain yang ada di dalam kelas tertawa. (pada dialog terakhir)
Koda:
Kelas ramai dengan suara tawa mahasiswa.


Tugas Mahasiswa Ke-6

Diposting oleh Feby Perry di 19.49 2 komentar
Bacalah teks “Anekdot Hukum Peradilan” tersebut sekali lagi, kemudian kerjakanlah tugas-tugas berikut ini!
1.      Buatlah dialog berdasarkan teks anekdot tersebut. Teruskan formulasi yang telah dibuat untuk kalian berikut ini.
Keluarga Pemilik Pedati:
Yang Mulia Hakim, saya tidak terima keluarga saya kehilangan pedati beserta kuda dan dagangan di dalamnya karena jembatan yang dilalui roboh. Pembuat jembatan itu harus dihukum.
Yang Mulia Hakim:
Baik, saya akan memanggil pembuata jembatan untuk diadili. Pembuat jembatan, kamu harus bertanggung jawab atas jembatan yang roboh.
Pembuat Jembatan:
Yang Mulia Hakim, saya tidak bersalah. Tetapi tukang kayu lah yang bersalah. Dia yang menyediakan kayu untuk bahan jembatan itu.
Yang Mulia Hakim:
Tukang kayu, kamu harus dihukum karena kayu yang kamu bawa untuk membuat jembatan ternyata jelek sehingga menyebabkan seseorang jatuh dan kehilangan pedati dan kudanya.
Tukang Kayu:
Jangan salahkan saya Yang Mulia, salahkan si penjual kayu yang menjual kayu dengan kualitas jelek.
Yang Mulia Hakim:
Hai penjual kayu, kamu harus dihukum karena tidak menjual kayu bagus pada tukang kayu sehingga jembatan yang dibuatnya tidak kukuh.
Penjual Kayu:
Jangan menyalahkan saya Yang Mulia, yang salah adalah pembantu saya. Dialah yang menyediakan beragam jenis kayu.
Yang Mulia Hakim:
Pengawal, bawa pembantu si penjual kayu ke hadapanku!
Pembantu Tinggi Besar:
Apa kesalahanku Yang Mulia?
Yang Mulia Hakim:
Kesalahanmu adalah telah menyebabkan tukang pedati kehilangan kuda dan dagangannya dengan memberikan kayu yang jelek kepada tukang kayu.
Hai pengawal, masukkan pembantu ini ke penjara dan sita semua uangnya.
Pengawal:
Sulit Yang Mulia, si pembantu badannya terlalu tinggi dan gemuk. Penjara kita tidak muat. Dan dia tidak punya uang untuk disita.
Yang Mulia Hakim:
Cari pembantu si tukang kayu yang lebih pendek, kurus, dan punya uang.
Pembantu Kurus dan Pendek:
Wahai Yang Mulia Hakim, apa kesalahan hamba sehingga harus dipenjara?
Yang Mulia Hakim:
Kesalahanmu adalah pendek, kurus, dan punya uang!!!
Saudara-saudara, apakah hukuman penjara untuk pembantu pendek, kurus, dan punya uang tadi adil?
Masyarakat:
Sangat adil, Yang Mulia Hakim.

2.      Ceritakan ulang dengan bahasa sendiri isi teks anekdot tersebut. Teruskan formulasi berikut ini.
            
Seorang kerabat si Tukang Pedati mengadukan seorang pembuat jembatan kepada yang mulia hakim karena jembatan yang dibuatnya runtuh yang menyebabkan si Tukang Pedati terjatuh ke sungai dan kehilangan pedati beserta barang dagangannya. Si pembuat jembatan disalahkan karena kayu untuk bahan jembatan itu tidak kuat dan menyebabkan jembatan runtuh.
Hakim memanggil pembuat jembatan untuk diadili. Namun si pembuat jembatan tidak terima dan menyalahkan si tukang kayu karena kayu yang dibawanya jelek dan rapuh. Tukang kayu membela diri dan menyalahkan si penjual kayu yang menjual kayu jelek.
Hakim memanggil memanggil si penjual kayu. Kemudian pengawal membawa si penjual kayu kehadapan hakim. Tetapi si penjual kayu membela diri, dan menyalahkan pembantunya, karena pembantunyalah yang memberikan kayu jelek kepada si tukang kayu. Kemudian si pengawal menjemput pembantu si penjual kayu.
Hakim memberi penjelasan tentang kesalahan si pembantu. Si pembantu tidak bisa memberi alasan yang memuaskan. Akhirnya hakim memerintahkan pengawal untuk memasukkan pembantu ke dalam penjara. Namun, pengawal belum juga memenjarakan pembantu itu. Penjara itu terlalu sempit. Sedangkan badan si pembantu itu tinggi dan gemuk, dan tidak memiliki uang untuk disita. Kemudian hakim memerintahkan pengawal mencari pembantu yang kurus, pendek, dan memiliki uang.

Pembantu kurus, pendek, dan mempunyai uang itu bertanya kepada hakim tentang  kesalahannya. Dengan entengnya hakim menjawab “Kesalahanmu adalah pendek, kurus, dan memiliki uang”. Hakim bertanya kepada khalayak ramai tentang hukuman yang ditujukan kepada pembantu kurus, pendek, dan mempunyai uang tersebut adil ataukah tidak. Dengan semangat, masyarakat yang ada serempak menjawab “Adiiil”.

Sabtu, 15 Februari 2014

Jadwal Kuliah Semester 4

Diposting oleh Feby Perry di 04.49 0 komentar
Mata KuliahKuliahRuang
CPI601 Telaah Kurikulum dan Pembelajaran Bahasa Selasa 12:30:00 1.14
CPI602 Pengembangan Materi Ajar Selasa 15:00:00 1.14
CPI408 Apresiasi Prosa Fiksi Rabu 07:00:00 1.14
CPI304 Profesi Kependidikan Kamis 10:20:00 2.23
CPI502 Korespondensi Kamis 07:00:00 2.23
CPI832 Penulisan Naskah 2 Jumat 08:40:00 RB1,Lt1
CPI251 Sosiolinguistik Kamis 08:40:00 2.23
CPI246 Sintaksis 1 Rabu 09:30:00 1.14

Rabu, 12 Februari 2014

Stop Menyontek

Diposting oleh Feby Perry di 01.17 0 komentar
Hari ini tanggal 12 Februari 2014. Akhirnya perut gue lega juga. Bukan, bukan karena gue abis pup. Tapi akhirnya nilai semester ini keluar juag. Biasa aja sih kedengarannya. Tapi, bisa lo bayangin gimana rasanya di PHP-in sama dosen-dosen yang belum laporin nilai mahasiswanya ke prodi. Berhari-hari, malah berminggu-minggu lo ngecek ke website kampus lo buat ngecek nila. Dan hasilnya selalu nihil. Tapi hari ini, penantian panjang itu akhirnya usai sudah. NILAINYA SUDAH KELUAAAAAAAAAAAARRRRRR!!!!!!
HaHaHaHaHaHa
Jangan anggap hal ini biasa. Gue tekanin sekali lagi JaN9aN 4nG9aP H4L iN1 b1a$4. Oke!.
Sebenernya gue orangnya down to earth banget, enggak ada sombongnya sedikit pun. Suerrrrrr deh enggak bohong. Enggak suka yang namanya pamer, apalagi sampe dipublikasiin di sosial media. aduuh enggak banget deh.

Morfologi 2
AB (7)
Psikolinguistik
AB (7)
Teori Belajar Bahasa
B (6)
Perkembangan Peserta Didik
B (6)
Apresiasi Puisi
A (12)
Penulisan Populer
A (12)
Menulis
AB (10,5)
Pilihan
AB (10,5)
IPS
3,55
IPK
3,45
Kalo yang di atas itu soalnya gue kesenengan, jadi pengen pamer sedikit lah hehe. *buat adik-adik, jangan ditiru ya.
Kenapa gue pamerin nilai gue? soalnya gue bangga. Kenapa gue bangga? soalnya itu nilai gue dapetin dengan susah payah dan basah kuyup. Gue dapetin itu nilai dengan tangan gue sendiri, dengan pemikiran gue sendiri dan dengan kehendah Allah SWT.

Jujur, dulu gue hobi banget dengan mencontek, malah udah kecanduan. Tapi sekarang gue udah insaf dan kembali ke jalan yang benar. Suerrr ga bohong. Caranya gampang banget, enggak harus direhabilitasi kok. Cuma bayangin kedua orang tua kalian aja. Iya bener, gue dapetin hidayah buat enggak lagi nyontek gara-gara inget kedua orang tua gue. Terus gue mikir, gue sekolah dibiyayain mereka, mereka juga selalu bilang ke gue "belajar yang pinter ya". Nah itu, gue enggak mau jadi anak durhaka kaya si Malin Kundang. jadi, mulai dari situ gue punya tekad pokoknya gue musti pinter dari hasil belajar. Bukan hasil nyontek.

Dan mulai dari situ juga, gue mulai enggak suka tiap kali ngeliat temen-temen gue pas lagi ujian. Mereka itu sama kaya gue waktu dulu. Tapi cara mereka itu masih kuno menurut gue. Cara mereka yang sering gue liat itu:
  1. Bilang "sts sts sts nomer 2" ke teman sebelah, belakang, maupun depan dengan suara kecil.
  2. Nyiapin kertas kecil, biasanya cara ini dilakukan untuk pelajaran-pelajaran yang menggunakan rumus. Dan fungsi kertas itu untuk menyimpan rumus-rumus itu. Biasanya mereka nyelipin kertas kecil itu di tempat pensil, kaos kaki, dasi, ataupun di sela jam tangan.
  3. Menggunakan handphone. Biasanya mereka sms-an dengan teman di kelas yang berbeda.
Udah sih, segitu doang yang gue tau. Dan jujur, gue juga pernah ngelakuinnya. Tapi gue udah insyaf.
 Buat teman-teman gue yang masih asik dengan hobinya, yaitu mencontek. berhentilah kawan, ingat orang tuamu, ingat gurumu, ingat Tuhanmu, dan ingat tukang sol sepatu. Mereka pasti kecewa kalu tahu kalo kamu hobi mencontek. Harapan mereka besar kepadamu.
Bukan, bukan hanya mereka. Negara ini pun menggantungkan masa depannya kepadamu. Apa jadinya republik ini, apabila generasi penerusnya berhobi mencontek. Mau jadi apa kamu kalo setiap ulangan mencontek, mau jadi koruptor? jangan.... sudah banyak koruptor di negeri ini, malah sangat berlebih. ayolah.... republik ini butuh mereka yang jujur, yang menggunakan pemikirannya untuk membangun masa depan bangsa ini untuk lebih baik lagi, bukan sebaliknya. jadi,
STOP MENYONTEK












Jumat, 18 Oktober 2013

Ibu Negara Dalam Instagram

Diposting oleh Feby Perry di 22.31 1 komentar


Ibu Negara, Ani Yudhoyono melontarkan kata ‘bodoh’ saat menanggapi komentar salah satu followersnya di akun instagram miliknya menuai pro dan kontra. Pasalnya, sebagai ibu Negara, Ani Yudhoyono dinilai tidak pantas mengeluarkan kata-kata negatif kepada seseorang yang tidak bukan adalah rakyatnya sendiri.


Akun @erie_nya yang dalam profilnya ditulis dimiliki oleh Erie Prasetyo, itu awalnya mengritik SBY dan keluarga yang datang ke Pantai Klayar, Pacitan, dengan menggunakan batik saat kunjungan kerja. Tidak terima dengan komentar tersebut, Bu Ani lantas membalasnya. Dengan komentar: “@erie_nya Subhanallah, komentar anda yang sangat bodoh. Koq anda tidak berpikir bahwa kami sedang melakukan kunjungan, dan mampir sebentar ke pantai itu, sekalian lewat? Come on, apa tak ada komentar lain yang lebih bisa diterima siapa saja? Baju batik sudah dikenakan dimana2, bukan hanya untuk acara resmi saja, namun juga acara setengah resmi, bahkan santai.”.




Selang berapa lama, akun @erie_nya membalas komentar Bu Ani. “@aniyudhoyono iya Ibu, saya barangkali memang masuk dalam golongan orang Indonesia yang masih bodoh. semoga Ibu berkenan memberi saya pencerahan agar kelak saya bisa pintar seperti Ibu. tapi memang, jika tak ada orang bodoh, mereka yang pintar jadi tak begitu memiliki arti.. *saya ngga cari ngetop. saya cuma kasih komen yang tak memuji. Jika Tuhan saja bisa mengampuni dosa-dosa saya, saya percaya Ibu pun akan memberi maaf kepada saya, kepada salah satu warga negara Indonesia yang masih bodoh.. Doa saya selalu, agar Ibu dan Bapak Presiden sekeluarga terus sehat dan senantiasa mampu untuk membuat negara ini maju dan membuat pintar warga negara yang masih bodoh seperti saya. Maafkan jika komentar2 saya sebelumnya membuat Ibu tidak berkenan.”

Perkataan ibu negara ini membuat kita terperanjat, bukankah keluarga SBY selama ini selalu mencitrakan diri sebagai sosok yang berhati-hati dalam berbicara dan sopan dalam bertindak. Jadi sangat ironis apabila keluar kata-kata yang tidak pantas diucapkan apalagi oleh seorang ibu negara yang seharusnya mencontohkan kebaikan-kebaikan baik dari sisi perbuatan maupun perkataan. Kenapa bisa seorang ibu negara berkata demikian, seorang psikolog forensik dari Universitas Bina Nusantara (Binus), Reza Indragiri Amriel menilai, salah satu penyebab Bu Ani melontarkan kata 'bodoh' di instagram karena stres dan penat. Bu Ani letih karena belakangan suami dan keluarganya banyak diterpa isu dan kritik. Belum lagi nama Bunda Putri yang disebut-sebut dekat dengan SBY. Bu Ani nampaknya sedang letih dan gampang impulsif-agresif verbal. Tetapi bagaimanapun keadaannya, seorang ibu negara tetap tidak pantas mengatakan hal-hal yang tidak baik kepada seseoang, apalagi melalui sebuah jejaring sosial. Hakikatnya, jejaring sosial digunakan oleh sesorang untuk dapat berinteraksi dengan orang lain dengan baik, sebagai sarana untuk berbagi, dan sebagai sarana untuk berekspresi.




Sekarang zamannya semua orang bisa bebas berekspresi. Tak peduli tingkat pendidikannya hanya sampai Sekolah dasar, Sekolah menengah atau bahkan yang sudah bergelar sarjana, dari pengangguran hingga orang nomer satu di negara ini sekalipun bisa berpendapat,. Sejak masa orde baru berakhir, Mei 1998, Era kebebasan mengambil alih panggung kebesaran. Ini termuat di dalam UUD 1945 pasal 28E ayat 3 yang menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Namun, yang menjadi permasalahan sekarang adalah memang benar hak setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat, akan tetapi jika pendapat tersebut mengarah kepada pembunuhan karakter seseorang, maka akan ada konsekuensi logis yang harus diterima. Mengkritisi namun tanpa adanya ketulusan. Sebagai contoh dalam kasus yang dialami oleh ibu Ani Yudhoyono ini.




Masyarakat sedang menikmati buah dari kebebasan berpendapat dan mengritik pemangku jabatan yang dulu tidak dapat dinikmati. Oleh karenanya, seorang pejabat publik dan keluarga harus mau dikritik. Tetapi, jangan pula terlalu hanyut dalam kata ‘kebebasan’. Berpendapat boleh, tapi harus memikirkan apa yang diucapkannya itu. Baik ataukah buruk, bukan hanya untuk kepentingan pribadinya saja, tetapi juga harus mementingkan kepentingan banyak orang. Dalam bertuturpun harus memilih kata-kata yang baaik untuk digunakan. Bebas harus diimbangi dengan tanggung jawab, artinya semua perbuatan dan perkataan yang dilontarkan harus dapat dipertanggung jawabkan apabila hal tersebut menyinggung orang lain. Mulutmu harimaumu begitu kata pepatah, jadi berhati-hatilah dalam berucap bagaimanapun keadaannya, dengan siapapun lawan bicaranya, dan dimanapun tempatnya. Baik itu di dalam keseharian, atau jejaring sosial sekalipun




Dalam media sosial seperti facebook, twitter, dan instagram juga berlaku etika dalam berkomunikasi. Karena itu, dalam memposting atau memberikan sebuah komentar harus berhati-hati memilih kata-kata yang hendak ditulis jangan sampai ada kata-kata negatif, hal tersebut dapat melukai perasaan orang lain.

 

Feby Perry Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review